Salju yang berterbangan di sekitar medan pertempuran perlahan kembali tenang. Lynx, masih dalam wujud Plasura, menatap punggung ribuan pasukan musuh yang kabur tergesa-gesa memasuki portal mereka.Tiba-tiba dia mengerutkan dahinya ketika melihat seseorang diantara mereka. Dengan gerakan cepat, Lynx mengamankan orang tersebut sebelum akhirnya dia kembal dan dengan gerakan santai, ia menurunkan tubuhnya dari udara, mendarat di atas salju tebal.

Di hadapannya, sembilan Immortal yang tak sadarkan diri terbaring tak berdaya, sebagian wajah mereka tertutup salju yang terbawa angin. Lynx menghela napas pendek, lalu mengangkat satu per satu tubuh mereka dengan gerakan ringan, seolah tubuh para Immortal yang biasanya tampak agung itu tidak lebih berat dari sebuah kapas. Dengan satu lemparan halus, ia melemparkan mereka satu demi satu ke arah portal yang hampir menutup. Tubuh para Immortal itu melesat seperti bayangan dan lenyap dalam cahaya portal, menyusul pasukan mereka yang sudah melarikan diri.

"Kita menang!"

"Kita menang!"

Suara sorak sorai gembira dari para murid sekte Pedang Es berkumandang. Mereka yang awalnya sudah siap untuk membela sekte hingga titik darah penghabisan tidak pernah menduga dengan keberadaan satu orang dapat membalikkan situasi. Bahkan para Leluhur Sekte Pedang Es merasa hormat dan kagum dengan kekuatan yang mereka saksikan.

"Han Tiansheng, apakah kamu pernah mendengar tentang Plasura ini?" bisik pelan leluhur Xue Yuning.

Leluhur Han Tiansheng menggelengkan kepalanya,"Sepertinya dia bukan dari benua ini. Sosok sekuat itu tidak mungkin kita tidak mendengarnya jika dia memang berasal dari sini. Tapi siapapun dia, kita semua sudah di tolong olehnya."

Bai Qianyu, ketua sekte Pedang Es datang mendekat."Leluhur, apakah dia di pihak kita? Bagimana jika dia punya niat jahat terhadap sekte kita." katanya dengan nada cemas.

"Bai Qianyu." Han Tiansheng menasehatinya,"Dengan kekuatan yang dia miliki, tidak perlu dia bersusah payah menolong kita. Tidak ada seorangpun dari kita bisa menghentikannya. Sebagai Ketua, pastikan kita berterima kasih dengan baik dan jangan membuatnya kecewa."

"Siap Leluhur." Bai Qianyu dapat menangkap penjelasan leluhurnya dengan baik sehingga dia segera menghapus pikiran negatif mengenai pria tersebut.

"Waktu untuk Penduduk Surya tidak lama lagi. Aku harus cepat." batin Lynx.

Setelah memastikan tidak ada lagi musuh yang tertinggal, Lynx mendongak menatap langit berbintang yang tertutup awan salju.Dengan sekali hentakan kaki, tubuhnya melesat ke langit, menembus kabut putih dan menghilang seperti asap yang tersapu angin. Gerakannya cepat, namun di mata para murid Sekte Pedang Es yang menatap dari kejauhan, sosok Plasura itu seolah lenyap di antara awan, meninggalkan kesan bahwa ia telah pergi meninggalkan medan pertempuran.

Dalam hitungan detik, dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kepergiannya, Lynx mendarat di belakang salah satu bangunan sekte. Pakaian tempurnya yang berlapis formasi ilusi sudah menghilang, kembali menjadi pakaian sederhana seorang pemuda biasa. Dengan langkah ringan, ia bergerak cepat kembali menuju halaman utama sekte.

Di tengah halaman yang masih berserak salju dan pecahan formasi, Leena berdiri di antara para murid Sekte Pedang Es. Wajahnya memancarkan kelegaan karena masalah bisa cepat terselesaikan dan mereka bisa fokus kembali menyelamatkan penduduk Surya.

"Ling Mei, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lynx, nada suaranya penuh kepura-puraan cemas. Ia meraih tangan Leena seolah benar-benar khawatir padanya.

Beberapa murid Sekte Pedang Es yang melihat pemandangan itu tertawa kecil sambil menutup mulut mereka. Salah satu dari mereka berbisik cukup keras hingga terdengar oleh yang lain. "Hahaha… Apa kalian tahu, tadi saat kita semua sedang berusaha melawan para musuh, seseorang terlihat menyusup ke belakang ketakutan. Setelah musuh pergi dan semuanya selesai, orang tersebut muncul lagi."

"Siapa...siapa...?"

Para murid yang mendengar merasa tertarik. Sebagian lainnya yang juga melihat hanya menahan tawa sambil memandangi sosok pria yang sedang terlihat mengkhawatirkan pasangannya. Mereka tidak berani menyinggung terang-terangan, selain karena pria tersebut adalah tamu, pasangan pria tersebut bukan sosok yang bisa mereka singgung. Wanita tersebut mampu melawan tiga immortal yang sudah mengalahkan leluhur mereka.

"Benar juga. Wajar saja, dia cuma kultivator Forging Qi tingkat dua," sahut murid lain setelah menyadari sosok yang dimaksid dengan nada mengejek. "Tapi melihat pasanganku bertarung, jika aku jadi dia, meski tidak mampu melawan pun akan menyaksikan hingga akhir dan berusaha mencari cara agar bisa membantu. Untung saja ada orang misterius itu… apa namanya tadi… Plasura?"

Tawa kecil terdengar, beberapa murid lain masih berusaha menahan diri, tapi jelas mereka menganggap Lynx penakut yang hanya berani muncul setelah bahaya lewat.

"Hush, diam. Tutup mulut kalian jika masih sayang nyawa." bentak salah satu senior yang mendengar percakapan mereka.

Segera mereka semua terdiam setelah mendapat teguran, bahkan tubuh mereka merinding setelah menyadari wanita tersebut menatap mereka dengan tatapan dingin. Dengan cepat mereka melarikan diri dan berusaha berpura-pura mencari kesibukan.

Ketua Sekte Pedang Es yang baru saja turun dari langit sempat mendengar suara percakapan mereka dan wajahnya mengeras. Dalam hati dia membatin dan mengeluh, "Murid-murid ini perlu di kasih pelajaran agar bisa menjaga ucapan. Kata-kata mereka bisa menghancurkan sekte ini. Siapa yang bisa menahan jika wanita tersebut mengamuk?"

Melihat para murid sudah bubar, Ketua Sekte pedang Es segera memberikan perintah kepada wakilnya, "Leng Wuji, perintahkan para tetua dan yang lainnya untuk memeriksa keadaan sekte. Pastikan tidak ada yang terluka parah dan periksa kondisi sekte. Kita harus tahu kerusakan apa saja yang terjadi. Aku akan membawa tamu kita ini ke ruang pertemuan."

"Dan pastikan, siapa saja yang turut mengkhianati sekte kita bersama Fei Ronghua." Lanjutnya dengan nada marah.

"Baik, Ketua Sekte," jawab wakilnya dengan hormat sebelum memimpin para tetua dan para murid untuk menyisir lokasi.

Ketua Sekte Pedang Es kemudian menoleh pada Lynx yang terlihat masih berbicara dengan lembut kepada pasangannya,"Tadinya aku menduga sosok misterius itu adalah orang ini, tapi para murid melihatnya justru bersembunyi. Aku sudah berpikir terlalu jauh, bagaimana mungkin seorang yang memiliki kekuatan immortal tahap akhir bisa bersikap santai dan merendah seperti itu."

Ketua Sekte menggelengkan kepalanya  dan berusaha tetap memasang wajah ramah terutama terhadap penolong Sektenya, Ling Mei. Dia lalu mengangguk sopan. "Nyonya Xiao, terimakasih banyak atas bantuannya. Mari ikut aku," ucapnya, lalu melangkah menuju ruang pertemuan, diikuti Lynx dan Leena. Salju berderit di bawah kaki mereka saat mereka melewati jalanan berbatu yang dingin.

Di dalam ruang pertemuan yang hangat oleh batu berelemen api, suasana terasa tegang. Kedua leluhur duduk di tempat sebelumnya tidak jauh dari posisi Ketua Sekte, tatapan mereka sesekali melirik Lynx dan Leena yang tampak duduk santai sambil berbicara dengan istrinya. Namun di mata mereka, bayangan sosok Plasura yang menghancurkan sembilan Immortal masih jelas terpatri.

Mereka berdua lalu berdiri dan memberi hormat dengan tulus kepada Lynx dan Leena.

Han Tiansheng mewakili berbicara dengan nada ramah, "Tuan dan Nyonya Xiao, kami berdua berterima kasih atas bantuan anda berdua. Jika bukan karena kalian, terutama tuan Xiao Ling, Sekte kami pasti mengalami kehancuran."

Ketua Sekte yang mendengar kata-kata leluhur Han Tiansheng menyebut Xiao Ling sebagai orang yang paling berjasa segera berdiri mendekat,"Leluhur, yang menolong kita tadi adalah Nyonya Xiao. Meskipun mereka berpasangan, bukankah kurang adil jika anda justru memuji tuan Xiao sebagai penolong utama."

Ketua Sekte memberi hormat kepada Leena, "Maafkan saya Nyonya Xiao, bukan saya bermaksud lancang dan tidak menghargai tuan Xiao, tetapi saya hanya ingin para leluhur lebih berterimakasih kepada Anda yang sudah berusaha membantu kami saat musuh menyerang kami."

"Bai Qianyu, apa yang kamu katakan. Memang benar Nyonya Xiao sangat berjasa. Tetapi tuan Xiao yang sudah membantu kita mengusir mereka semua." Leluhur Xue Yuning menggunakan telepati untuk menegur ketua Sektenya.

"Leluhur, para murid mengatakan mereka melihat pria ini bersembunyi saat istrinya bertarung. Orang yang menolong kita tadi, bukan dia. Kalian salah mengenalinya." Balas ketua Sekte dengan penuh keyakinan.

"Bai Qianyu." Bentak leluhur Han Tiansheng. Melihat situasi dan kesalahpahaman yang terjadi, leluhur Han Tiansheng menegur ketua sektenya secara langsung. "Kamu sebagai Ketua Sekte jika tidak bisa menilai dengan benar, maka diamlah!"

"Ada apa leluhur?" Tanya Leena dengan nada heran saat melihat leluhur Han Tiansheng menegur Ketua Sekte.

